Profil & Informasi irigasi Provinsi Banten

  

Sejarah irigasi Banten

peninggalan sejarah keraton surosowan.jpgSejarah irigasi di Banten berawal dari kisah Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah, yang merupakan Putera dari Abdul Ma’ali Ahmad (Sultan Banten periode 1640-1650) dan Ratu Martakusumayang menyingkir dari Surosowan (sekarang Banten Lama) dan memilih sebuah dusun di pantai utara Banten untuk membangun istana barunya di daerah rawa-rawa yang kemudian daerah tersebut diubah menjadi ‘kota air’ dengan membangun teknologi hidrolik untuk mengembangkan ekonomi berbasis pertanian dan perkebunan. Karena keahliannya dalam membangun sistem pengairan, sultan mendapat gelar Sultan Ageng Tirtayasa. Tirta artinya air, yasa artinya membangun.Sultan Ageng memodifikasi lingkungan dengan membuat sodetan dari sumber air induk sungai dan rawa-rawa serta membangun kanal-kanal untuk menyalurkan air dan membuat bangunan pengairan (bendungan dan pintu air) untuk mengendalikan, menaikkan, serta memindahkan aliran air. Dengan modifikasi tersebut, air dapat dimanfaatkan saat musim hujan atau ketika kemarau.

 

Selama hampir 14 tahun (1663-1677) Sultan Ageng membangun sistem irigasi besar-besaran di Banten(Merie Calvin dan Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern, 2008). Sekitar 16.000 pekerja dilibatkan untuk membangun kanal  besar sepanjang 40 KM. Di sepanjang kanal tersebut, sultan membuka 30.000 – 40.000 hektar sawah dan ribuan hektar kebun kelapa. Kanal irigasi itu dibangun di lembah Sungai Ciujung dan Cidurian serta lembah Sungai Cimanceuri. Bukti peninggalan berkaitan dengan irigasi di Cimanceuri berujung di daerah Balaraja. Peninggalan itu berupa tiga pintu air yang salurannya bersumber dari Sungai Cimanceuri dan Rawa Rancailat.  Sedangkan peninggalan yang berada diantara Sungai Cidurian dan Ciujung berupa pintu air yang menjadi penanda adanya sodetan untuk mengalirkan air dengan dua kanal buatan.

 

Kanal pertama dikenal sebagai kanal sultan sepanjang 9 KM. Sampai sekarang kanal buatan sultan ini masih dapat dilihat dan dimanfaatkan untuk pengairan. Selain itu, ditemukan pula dua pintu air, saluran kontrol bawah tanah, dan pintu air berbentuk jembatan di sepanjang kanal tersebut. Kanal kedua disebut saluran Jongjing yang panjangnya 9 KM menuju ke arah Kampung Sujung. Di sepanjang kanal itu terdapat lima bendungan yang dilengkapi dengan dua pintu air. Namun, hanya tiga bangunan yang masih dapat dilihat hingga sekarang, yaitu di Kampung Endol, Cerucuk, dan Sujung.Kanal sultan menyadap air kali Cidurian ke arah kiri untuk mengairi dataran rendah tanara. Di samping kanal sultan terdapat beberapa jaringan-jaringan irigasi kecil yang menyadap air dari kali-kali kecil seperti Cibongor, Cicauk Cisaid, Ciwaka dan Cipare. Luas daerah yang dapat dilayani oleh irigasi-irigasi kecil ini hanya sebagian kecil saja dari areal persawahan yang ada pada saat itu, selebihnya masih berupa lahan persawahan tadah hujan.

 

bendung pamarayan lama.jpgPerkembangan irigasi di Banten, selanjutnya ditandai dengan dibangunnya bendungan atau dam pamarayan pada masa kolonial Belanda. Bendungan pamarayan memiliki 10 buah pintu pengatur air terbuat dari lempengan baja yang masing-masing diapit oleh tiang-tiang kokoh dengan tiga bangunan berbentuk menara, fungsinya sebagai ruang mesin untuk menurunkan dan menaikan pintu-pintu air tersebut.Untuk meredam pergolakan yang selalu timbul di Banten, pemerintah hindia belanda merencanakan pembangunan jaringan irigasi untuk mengairi dataran banten utara yang meliputi dataran rendah pantai utara jawa disebelah barat Kali Ciujung sampai ke Selat Sunda. Pengukuran topografi, hidrometri dan pengumpulan data dasar untuk perencanaan jaringan irigasi dimulai pada tahun 1896. Sementara pembangunan fisik jaringan irigasi baru dimulai pada tahun 1905. Mulanya pemerintah Kolonial  Belanda hanya ingin mengambil rempah-rempah, tetapi seiring waktu, Belanda berinisiatif membuat jembatan untuk pengairan di lahan pertanian dan untuk mempermudah mobilitas mereka dalam mengambil rempah-rempah di daerah tersebut. Jembatan tersebut dibangun tahun 1901, faktanya tertulis pada Almanak yang tertera pada salah satu pintu air. Proyek bendungan ini selesai dikerjakan pada tahun 1914 dan air mulai disalurkan pada tahun 1918.

 

Selain Bendung Pamarayan, pada tahun 1911 pemerintah kolonial mulai mempersiapkan rencana irigasi di daratan tangerang, dan pada tahun 1919 dikeluarkan rencana dimana utara daratan akan diairi oleh Ci Sadane dan daerah selatan oleh Ci Durian. Bendung Asupan Sungai Ci Durian dibangun oleh Hollandsche Deton Maatschappij, pada tahun 1926 yang kemudian diteruskan untuk memperpanjang kanal Ci Durian utama selanjutnya timur, di seberang sungai Ci Manceuri.Kemudian pada tahun 1927 dimulai pembangunan Pintu Air 10 Cisadane. Bangunan Irigasi Cisadane dengan panjang 125 Meter dengan 10 Pintu Air dan tinggi 10 meter tersebut mulai di operasikan tahun 1932 di masa penjajahan Belanda. Bendungan tersebut mampu mengairi +/-1.500 hektar sawah yang berada daerah kota dan kabupaten tangerang. Bendungan ini lebih di kenal dengan sebutan "bendungan pinta air sepuluh"atau"sangego".

 

sisa bangunan buatan belanda.jpgrantai mirip rantai motor yang berukuran besar. Sepuluh rantai dikaitkan pada roda gigi elektrik yang terletak dibagian atas bendungan. Roda-roda gigi yang berfungsi untuk menggerakkan pintu air berjumlah puluhan di dalam 30 bok  tipe 1,2 dan 3 (berukuran sedang) dan  roda gigi tipe 4 dan 5 (berukuran besar). Setidaknya ada 20 as kopel berdiameter sekitar 7cm dan panjang 1,5m sebagai penghubung roda gigi disetiap pintu air.Jaringan irigasi saluran induk kiri memiliki daerah oncoran sekitar 24.000 hektar dan jaringan irigasi saluran induk kanan dengan daerah oncoran sekitar 7.000 hektar, pembangunan jaringan irigasi Ciujung Pamarayan dengan luas daerah pelayanan sekitar 31.000 hektar memakan waktu 30 tahun.

Sebagai bahan informasi, disamping bendungan ini terdapat bangunan  yang digunakan oleh Kolonial Belanda untuk membayar upah para pekerja atau biasa disebut dengan”pamayaran”. Seiring dengan perkembangan zaman serta pendidikan masyarakat sekitar bendungan, sebutan pamayaran kini mengalami perubahan sedikit demi sedikit dan akhirnya menjadi Pamarayan yang kini menjadi nama sebuah Kecamatan di Kabupaten Serang, Provinsi Banten.Bangunan utama irigasi ini berupa sebuh bendungan didekat Desa Pamarayan di Kali Ciujung, karena itu bangunan ini dinamakan Bangunan Pamarayan, jaringan irigasinya dinamakan irigasi Ciujung Pamarayan.

 

bendung pamarayan baru.jpgSelanjutnya, pada tahun 1970 karena umur konstruksi, bendungan tersebut mengalami kerusakan berat sehingga pemerintah melakukan rehabilitasi bendung pamarayanpada masa PELITA I dengan dana luar negeri IDA (International Development Association). Kemudian pada tahun 1985, Bendung Pamarayan Lama mulai menurun strukturnya karena ada konsolidasi tubuh bendung dan adanya penggalian pasir di hilir bendung (down stream) yang mempercepat kerusakan karakteristik sungai Ciujungdan pada tahun 1992 dimulai pembangunan Bendung Pamarayan Baru yang terletak sebelah kiri dari Bendung Lama sekaligus mengganti konstruki bendung tetap dengan model bendungan gerak menggunakanteknologi modern, yaitu dengan menggunakan pintu gerak yang dikendalikan secara otomatis melalui tenaga listrik dengan daya yang tinggi. Bendung gerak tersebut selesai dibangun pada tahun 1997 dari dana OECF Jepangdan merupakan pengganti dari bendung lama yang dibangun pada zaman pemerintahan Belanda. Setelah bendung pamarayan, kemudian banyak dibangun bendung-bendung lainnya di Banten untuk mencukupi kebutuhan air irigasi guna meningkatkan swasembada pangan di Banten.